
Mbah Roso Gelar Ritual Tolak Balak.

MBAH ROSO Gelar Ritual Tolak Bala di Merapi
MENANAM PUSAKA SINGKIR RUBEDA
TRAGEDI Meletusnya GUNUNG MERAPI telah menjadi perhatian tersendiri bagi kalangan spiritualis. Tak terkecuali dengan Drs.H.Imam Suroso, MM ( Mbah Roso ) yang menggelar ritual khusus di Merapi. Ritual apakah yang dilakukan Mbah Roso ?
LETUSAN bencana Gunung Merapi pada Selasa, (26/10) tahun ini lebih hebat ketimbang letusan tahun-tahun seblumnya. Buktinya, ujung awan panas letusan Merapi kali ini mencapai kawasan rawan bencana II. Bahkan, kawasan rawan hingga mencapai 20 km. "Dalam 100 tahun terakhir, belum pernah ujung awan panas sampai masuk kawasan rawan bencana II," kata Mbah Roso, Selasa (16/11) setelah melakukan ritual tolak bala.
Menurut Mbah Roso, kawasan rawan bencana II hanya dalam status berpotensi bencana. Sementara kawasan rawan bencana III yang pada peta bahaya Merapi lama termasuk daerah terlarang ( forbidden zone ).
"Artinya ujung lidah panas sudah memasuki area yang sebelumnya tidak masuk kawasan terlarang. Termasuk dalam KRB III adalah Kinahrejo, Kaliadem, Kaliurang, Tritis, Tunggul Arum, Ngerakah, Kalitengah dan Turgo. Sementara KRB II antara lain Betung, banjarsari, Kopeng,"ujarnya.
Dalam penanaman PUSAKA TOLAK BALA SINGKIR RUBEDA untuk bencana Merapi, Mbah Roso menanam pada empat penjuru yaitu utara, selatan, timur dan barat. "Penanaman pusaka di empat penjuru ini sebagai upaya tolak bala agar bencana tidak lagi mendera masyarakat di sekitar Gunung Merapi," paparnya.
Disamping menggelar ritual tolak bala di Gunung Merapi, Mbah Roso juga menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana Gunung Merapi. "Hal ini saya lakukan sebagai bentuk kepedulian PADEPOKAN BUMI WALI SONGO kepada masyarakat yang terkena musibah,"tambah MBAH ROSO.
GELAR RITUAL
Banyaknya korban jiwa meninggal dunia dan ribuan pengungsi itulah membuat pimpinan PADEPOKAN BUMI WALI SONGO, Pati, Jateng ini menggelar acara ritual tolak bala. hal itu dilakukan agar keganasan GUNUNG MERAPI segera reda.
Dalam ritual tersebut, Mbah Roso memanjatkan doa kepada Allah SWT agar penderitaan pengungsi Gunung Merapi segera berakhir yang dilanjutkan dengan ritual khusus, menanam pusaka "Tolak Bala Singkir Rubeda" di sekitar Balai Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan.
Dengan penanaman pusaka ini diharapkan semua rubeda (bencana) yang ditimbulkan oleh semesta (erupsi Gunung Merapi), segera reda dan kembali normal seperti sedia kala. Alam tidak lagi meminta tumbal nyawa tak terbilang banyak. Kehidupan masyarakat pulih kembali seperti semula, hidup tenang damai dalam naungan kemurahan alam pedesaan. "Saya berharap masyarakat yang terkena musibah bencana ini bersabar, semua pasti ada hikmahnya dibalik semua ini," papar Mbah Roso.
Ritual serupa juga pernah dilakukan oleh Mbah Roso ketika Jogjakarta diguncang gempa bumi. Waktu itu Mbah Roso bergegas memberikan bantuan dan juga menanam keris tolak bala di Bantul. "Alhamdulillah, setelah itu gempa-gempa susulan segera berhenti. Dan kehidupan di daerah sini kembali normal, saya berharap dengan ritual yang saya lakukan ini juga berhasil dan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Merapi kembali normal, "tandasnya.
Ketika terjadi pagebluk yang merenggut belasan jiwa warga Desa Grabag, Magelang, beberapa waktu lalu, Mbah Roso juga turun tangan. Mbah Roso juga minta izin kepada penunggu setempat untuk melakukan pembersihan-pembersihan. Setelah keris PUSAKA SINGKIR PAGEBLUK ditanam oleh Mbah ROSO di Desa Grabag, teror pagebluk langsung sirna. warga yang sakit serta merta menjadi sembuh semua. "Ya, semua itu tidak terlepas dari izin Allah," ungkapnya.
BENCANA NASIONAL
Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sultan Hamengku Buwono X tidak mengetahui secara pasti, apakah bencana erupsi dan letusan Gunung Merapi 2010 merupakan bencana nasional ataukah tidak.
Pasalnya, pembiayaan tanggap darurat selama ini dilakukan oleh pemerintah daerah, baik Provinsi DIJ maupun Kabupaten Sleman. Pemerintah pusat hanya memberikan support dana on call. Di sisi lain, Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai simbol negara sempat hadir sehari semalam di Jogjakarta. Begitu pula Badan Nasional Penanggulangan Bencana berkantor di Jogjakarta hingga saat ini.
Berbeda dengan penanganan bencana gempa bumi 2006 yang sepenuhnya ditangani pemerintah daerah. Meski demikian, Sultan mengakui bahwa tidak semua biaya bencana Merapi ini bisa ditangani pemerintah daerah. Meski demikian, sultan mengakui bahwa tidak semua biaya bencana Merapi ini bisa ditangani pemerintah daerah. " Kalau sekedar biaya operasional dan makan minum pengungsi, ya masih bisa. Tetapi yang berat adalah biaya rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Sultan.
MBAH ROSO, yang juga anggota DPR RI, sangat mendukung agar bencana Merapi menjadi bencana nasional. "Saya sangat mendukung sekali kalau bencana Merapi ini menjadi bencana nasional. Coba bayangkan, hampir semua wilayah di sekitar Gunung Merapi rusak parah. Untuk mengembalikan lagi kehidupan masyarakat tentunya butuh dana cukup besar dan waktu yang lama," tegas Mbah Roso.
MBAH ROSO merasa prihatin melihat desa-desa di sekitar Gunung Merapi yang porak poranda akibat terjangan awan panas. "Padahal, daerah-daerah di sini dulu terkenal sangat subur, pertaniannya juga sangat baik. Kepercayaan masyarakat harus dibangun agar mereka segera bangkit dan kembali hidup normal seperti sedia kala," pesan MBAH ROSO.