
Mbah Roso lakukan Ritual Panggil Hujan.

Didahului "Shalat lstisqo" mohon hujan turun, paranormal "Djeng Asihl” (Dra.Hj.Asih Marlyna.MBA) Pemimpin Rumah Sakit "Mitra Bangsa" Pati dan "Mbah Roso" (Drs.H.Imam Suroso MM.MBA) Pimpinan Padepokan "Bumi Wali Songo" Pati, memberi bantuan air bersih 20 truck tangki, 60 dos supermie, 60 dos air mineral dan bantuan uang secukupnya untuk warga yang menderita kekeringan akibat kemarau panjang, di Desa Klayu Siwalan dan Bulumulyo, Kec.Batangan, Kab.Pati, Jateng.
Bantuan "Djeng Asih" dan "Mbah Roso" yang tak terduga-duga diberikan Jumat 24 November 2006, disambut antusias ribuan warga di dua desa itu. Usai ikut Shalat Jumat di masjid Desa Klayu Siwalan, dua paranormal kesohor itu menyerahkan bantuannya.Namun sebelumnya "Mbah Roso" memimpin "Shalat Istisqo" di "oro-oro" (!apangan terbuka) tak jauh dari masjid setempat.
Terjadi fenomena alam mencengangkan. Lewat tengah hari; itu udara/hawa panas (mencapai 37 Derajad Celcius) , ketika "Shalat Istisqo" yang "di-imam-I" oleh "Mbah Roso" diikuti ratusan warga desa ¬mulai digelar;Tiba-tiba berubah agak sejuk manakala di langit sekonyong-konyong awan hitam berarakan. Bahkan terdengar petir menggelegar di langit, seakan-akan hujan akan turun. Sayang hingga shalat selesai, titik air tidak jatuh dari angkasa.
Masyarakat kecewa hujan tidak turun. Air yang mereka dambakan selama lebih 6 bulan terakhir tidak di dapatkan. Namun kekecewaan mereka terobati, ketika puluhan truck tanki air yang mengangkut sekitar satu juta liter air bersih bantuan "Djeng Asih" dan "Mbah Roso", sudah berjajar di sepanjang ja ¬Ian desa, slap mengucurkan air dengan gratis pada warga desa. Tambah marak lagi ketika "Djeng Asih" secara spontan membagi-bagi uang lembaran puluhan ribu rupiah pada anak-anak dan warga desa.
Pusaka Pengundang Huian
Kekhusukan "Shalat lstisqo" di area terbuka di bawah sengatan terik panas matahari saat itu, klimaksnya ditandai saat "Mbah Roso" melaksanakan "Ritual Khusus" berupa pemasangan pusaka warisan leluhur,"Keris Tirta-Agni",di atas sepucuk bambu di tepi lapangan.Sebelum pusaka di pasang, "Mbah Roso" melafalkan doa dan mantra. Sesajen macam-macam "jajan pasar" dan bubur putih-merah, telur ayam cemani, bunga/kembang boreh disertai asap kemenyan di bawah keris pusaka yang ujungnya menuding langlt, menambah daya magis kuat pada ritual itu.
Keris pusaka dan sesajen, berada di lapangan itu sehari-semalam.Dengan maksud, pusaka arn¬puh itu mampu mengundang datang/berkumpulnya mendung di hari-hari mendatang, sehingga di daerah tersebut turun hujan. Sehingga air bukan saja untuk kebutuhan hidup warga desa segera tercukupi, tapi kegiatan pertanian yang mandeg berbulan-bulan bisa menggeliat lagi.
Penderitaan warga cukup berat berkaitan dengan langkanya air. Sumur-sumur kering , sungai¬ berubah jadi tanah merekah. Warga desa berupaya mendapatkan air dengan cara membuat sumur dite¬ngah alur sungai yang mengering sedalam puluhan meter.Tapi apa terjadi? Air memang didapat, tapi ¬rasanya asin. Apa boleh buat, air asinpun mereka gunakan untuk mandi / cuci kendati terasa pekat di ba¬dan.
Guna memperoleh air bersih untuk minum, warga harus "berburu air" di lokasi tertentu yang jarak nya berpuluh kilometer. Cara itu di tempuh dengan sepeda kayuh atau sepeda motor bagi yang memiliki. Malah ada yang jalan kaki sambil memikul jirigen isi air. Suatu penderitaan terus berulang di alami war¬ga desa setiap tahun, sebelum masalah air bersih dapat diatasi tuntas oleh Pemda Kabupaten Pati atau Pemda Provinsi Jateng, atau Pemerintah Pusat, kata Camat Batangan Drs Tri Haryomo.
Terlepas dari itu, mukzizat seakan terjadi. Malamnya, sebagian besar wilayah Kabupaten Pati yang selama berbulan-bulan tidak turun hujan, mendadak diguyur hujan cukup deras. Begitu di hari-ha¬ri berikutnya, hujan mulal turun. Beberapa Carnat dan Kepala Desa, memberi penghargaan pada "Mbah Roso" dan "Djeng Asih.